Cukup tahu, bua…

Cukup tahu, buat level Universitas, keberlangsungan program dari penelitian jarang direncanakan. Program selesai, dana berhenti, program pun dianggap selesai. Dana yang berlebih, ketika ada program dadakan, terkadang sulit untuk diminta. Soalnya sudah habis buat gaji pengurus. Yang di lapangan, mewek dah #bukankantorsaya

Berita: Siapa mengeksploitasi siapa?

Baru saja selesai menonton film Disconnect. Saya tidak akan bercerita tentang isi film tersebut, tapi lebih melihat ke satu alur cerita yang ada. Film ini memiliki tiga alur, semuanya berkaitan dengan kejahatan jejaring sosial. Ketiganya memang berbeda, tapi ada irisan-irisan kecil di setiap bagian. Entah itu karakternya, atau apa yang persoalan-persoalan yang dihadapi mereka. Irisan besarnya, ya kejahatan jejaring sosial ini tadi. Kejahatan-kejahatan yang mungkin belum banyak terekspos di Indonesia. 

Cerita pertama mengenai cyber bullying. Cerita kedua mengenai penipuan kartu kredit. dan Cerita ketiga mengenai Eksploitasi seksual anak berusia di bawah umur.

Dari ketiga cerita tersebut, ada satu bagian yang cukup menarik bagi saya. Bukan berarti dua cerita lainnya tidak menarik, namun, bisa dikatakan, bagian cerita ketiga menjadi satu hal yang jarang terjadi dan terlihat.

Cerita ketiga tidak menitikberatkan kepada eksploitasi anak di bawah umur secara seksual. Karena memang, eksploitasi yang dilakukan disini tidak seperti yang biasa terjadi. Bukan dengan paksaan, penculikan ataupun tindakan kriminal lain. Kata eksploitasi anak di bawah umur disini menjadi rancu, karena semua ini dilakukan dengan sukarela, tidak harus dengan berhubungan fisik. Mereka hanya menunjukkan tubuh mereka lewat webcam di forum-forum livechat. Anak-anak di bawah umur ini dikumpulkan di satu apartemen. Dan untuk membayar, pelanggan bisa membelikan apa yang mereka inginkan. Barang-barang yang diinginkan ada di daftar wishlist mereka.

Di awal film, bisnis sex livechat menarik perhatian seorang wartawan. Ia menawarkan kepada kepala divisinya cerita mengenai bisnis tersebut. Setelah disetujui, ia kemudian pelan-pelan berhubungan dengan satu akun pemuda. Dimulai dari membangun kepercayaan melalui chat biasa, sampai menunjukkan muka. Setelah itu, sang wartawan mengajak si pemuda untuk kopi darat. Disaat kopi darat inilah, si wartawan meminta ijin kepada si pemuda untuk menjadikannya narasumber dalam sebuah liputan investigasi.

Si pemuda menolak.

Awalnya si pemuda mengira, bahwa hubungan chat ini akan berpindah ke hubungan fisik. Ketika kemudian tahu bahwa ia akan menjadi objek liputan, dan mendengar alasan mengapa sang wartawan ingin menjadikannya sebagai objek berita, ia pun mundur. Ia merasa nyaman dengan pekerjaannya. Dan meskipun sang wartawan menjejalinya dengan pertanyaan, soal masa depan, ia berkata tak perduli. Soal batasan umur di pekerjaannya, resiko, dan juga mau jadi apa ke depannya. Dan mereka berpisah.

Sampai kemudian, di satu malam, ada seorang pemuda yang diajak ke apartemen tersebut. Oleh si pengurus bisnis sex livechat ini, ia ditanya, apakah ia senang melakukan hubungan sex dan dibayar untuk melakukannya. Si pemuda ini setuju. Lalu, pemuda yang diceritakan di awal mulai berfikir ulang perkataan si wartawan. Akhirnya ia setuju untuk menjadi narasumber berita. Dan tentunya identitasnya disamarkan.

Berita mengenai eksploitasi anak di bawah umur melalui forum sexchat ini kemudian menarik perhatian banyak pihak. Liputan sang wartawan bahkan disiarkan ulang di media yang lebih besar. Sementara hubungan antara wartawan dan sang pemuda semakin dekat. Meski sang wartawan tetap mampu menjaga untuk tidak melakukan hubungan yang lebih jauh.

Pada akhirnya, pihak FBI menderngar kasus ini. Mereka meminta identitas dan lokasi dimana bisnis sex livechat ini dilakukan. Pada awalnya sang wartawan menolak, tapi dengan tekanan yang besar pada akhirnya ia buka mulut. Jelas ia merasa bersalah kepada si pemuda, mengingat ia berjanji untuk tidak membuka identitas si pemuda.

Sebelum FBI sampai di lokasi ini, mereka akhirnya pindah ke lokasi lain. Si pemuda masih tetap menghubungi wartawan, meskipun ia merasa terancam. Sang wartawan meminta tolong kepada FBI untuk melacak keberadaan si pemuda, tapi mereka menolak karena tidak sesuai prosedur. Sampai kemudian akhirnya mereka bertemu di luar kota. Si wartawan membujuk si pemuda untuk menyerahkan diri sehingga masa depannya akan lebih cerah karena diurus oleh negara. Ia menambahkan bahwa si pemuda dieksploitasi oleh pemilik bisnis ini.

Kata-kata si wartawan dibalikkan oleh si pemuda. Sebelum si wartawan datang, si pemuda nyaman-nyaman saja dengan keadaannya. Ditambah lagi, ia tak sendiri. Apa yang dilakukan oleh si wartawan, bukan hanya membuatnya kehilangan pekerjaan, tapi membuat dirinya dalam keadaan yang tidak aman. Ditambah lagi, si wartawan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan memberitakan si pemuda dan bisnisnya. Si pemuda menganggap si wartawan hanya menjadikannya objek eksploitasi, sementara si pemilik bisnis yang dikatakan oleh si wartawan sebagai pengeksploitasi, tidak seperti itu. Ia juga mengurusi dan tidak pernah memaksa anak-anak muda ini untuk menjalankan bisnisnya. 

 

Secara sepintas, apa yang dilakukan oleh wartawan barusan lumayan menggelitik saya. Sejauh manakah hubungan antara si subjek dan objek perlu? Diingat juga, hubungan antara wartawan dan narasumber di atas terjadi di negara dimana HAM didengang dengungkan.

Saya teringat pada film documenter tentang James Nachtwey

Keduanya sama-sama wartawan. Bedanya, yang satu melihat secara personal, sementara yang di film lebih ke satu individu dalam satu kelompok. Si wartawan melakukan campur tangan sesuai kepentingan, tapi tidak mengantisipasi akibat yang ditimbulkan oleh liputannya? Salah? entah.

Hal ini membuat saya berfikir, apakah memang intervensi perlu dilakukan ketika kita kemudian melihat ada yang salah dalam kehidupan orang lain. Sejauh mana? Karena memang, objek berita akan terasa lebih hidup ketika yang kita ceritakan adalah sesuatu yang tidak biasa. Sesuatu yang eksotis. Dan terkadang, dengan menulis, seolah tanggung jawab si wartawan sudah selesai. Mungkin

Sementara pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban pasti terus berlanjut, televisi masih saja memutar berita sesukanya saja. Lupa, bahwa gambar dan suara tak hanya dilihat dan didengarkan, tapi memberikan rentetan domino, yang jatuh, tanpa usai.

 

mlebu metu koyo kuceng

melatjak djedjak, membatja tanda, menerka roepa

Secondhand Sourkrout

Fermenting genius

Urban Poor Consortium

berbagi lahan berbagi peradaban

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 379 other followers