Upacara

“Besok kalau menikah, aku ga ingin orang yang ga kukenal datang”

Kamu mengucapkan kalimat itu tiba-tiba. Padahal, baru kemarin sepertinya kamu mengatakan jika pernikahanmu akan menjadi sebuah pernikahan termegah di angkatan alumni SMA kita.

“Megah yang kumaksud disini bukan sekedar fisik belaka. Sejujurnya aku jengah dengan rentetan proses panjang yang tidak berkesan. Sekedar resmi-resmian, sampai akhirnya kita lupa untuk apa upacara suci tersebut diadakan”

Entah apa yang sebenarnya terpikirkan olehmu. Ya, aku ga heran. Kau memang terbiasa berpikir jauh di atas permukaan belaka. Sudah beberapa kali kita berdebat mengenai bagaimana kultur bangsa ini diam-diam terasa jauh dari kenyataan.

“Aku bukan tak suka dengan upacara tradisi. Aku cukup mengerti maksud dari leluhur kita menciptakan itu semua. Membuat orang-orang merenungi keindahan yang berpadu dengan tujuan. Membiarkan orang-orang berproses mencari makna kehidupan sembari belajar tanpa harus disertai rasa tertekan.”

Lalu kamu menunjukkan sebuah diagram panjang teori sosiologi budaya. Menunjukkan deretan bagan soal bagaimana sebuah struktur masyarakat tercipta, pola interaksi yang ada, dan akhirnya, kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akhirnya menjadi sebuah budaya”

“Kamu suka baca novel?”

Aku mengangguk. Kita nyambung juga karena novel

“Kamu tahu maksud dari penulisnya?”

Ummm…aku hanya mengangguk. Aslinya sih terkadang aku hanya menikmati jalan ceritanya. Menciptakan bayangan sendiri dari apa yang tertera disana. Kulakukan dengan menghubungkan kepingan pengalaman lalu akhirnya ketika lembaran terakhir dari cerita itu tertutup, aku mulai memunculkan akhir alternatif dari novel tersebut.

“Sekarang bayangkan aku kasih buku teori sastra, yang isinya mengupas novel yang pernah kau baca”

Hey….hey…Novel bacaanku ga seberat novel bacaanmu. Aku ga perlu tahu soal hal yang memang aku ga ingin tahu!

“Kata siapa teori sastra yang ada ga berhubungan dengan novel kacangan yang sering menjadikan penulisnya buruan pecinta tanda tangan”

Jadi maksudmu apa?

“Aku hanya mencoba mengajakmu membandingkan antara upacara sederhana yang bermakna dengan upacara megah yang terlihat indah, tapi dibaliknya membuat sang penyelenggara menjadi resah”

Kalau aku, mending keduanya digabungkan. Tidak kehilangan keindahan, dan juga tujuan. Untuk itulah wedding organizer diciptakan

“Untuk itu juga Arsitek diciptakan”

Bedanya arsitek merasa seperti tuhan. Seolah tahu setiap detil dari apa yang ia lakukan.

“Dan wedding organizer seolah seperti malaikat? Seolah siap setiap saat sementara kedua mempelai sibuk selamatkan martabat?”

Hahaha…wedding organizer yang harusnya membuat kedua mempelai menjadi lebih ringan memikirkan pernikahan, kemudian hanya menjadi sebuah simbol status. Itu maksudmu?

“Tepat. Jadi itulah mengapa arsitek dan wedding organizer ga bisa dibandingkan”

Aku hanya terbahak kemudian.

Tak heran jika akhirnya pernikahanmu, diurusi oleh teman seangkatan. Tak heran kemudian, calon mempelaimu mampu membuat semua orang seolah kehilangan pikiran, karena bukan aku yang berdiri di pelaminan. Dan aku hanya merasa obrolan kita sebelumnya hanyalah kedok dari kepintaranmu membolak-balikkan perasaan dan pikiran.

Tak heran jika sehari sebelumnya, kita berpisah. Sambil berjabat tangan, memberikan surat undangan.

“Maaf, kau sebaiknya tak datang” begitu isi undanganmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s