Titik kosong

Kalau ngobrolin Maslow, ngelihat dunia ini emang ga ada cukupnya. Ketika seseorang akhirnya sampai di tahap kebutuhan eksistensi, hal ini kemudian menjadi lingkaran setan. Kebutuhan soal jasmani, gampanglah buat dipenuhi. Bisa diukur dan bisa dikira-kira standarnya. Tapi kalau kebutuhan eksistensi dan pengakuan diri? Selalu ada ruang yang membuat kita punya alasan dalam melakukan sesuatu yang kita pikir bisa menuju kepada kebahagiaan.

Secara pribadi, aku sendiri memiliki kekosongan terhadap pengakuan pada keluarga awalnya. Merasa selalu ada pr untuk membuat orang tua merasa tenang tanpa banyak pertanyaan. Di kemudian hari, hal ini membuatku capek karena ternyata ada hal yang standar kebahagiaan yang aku punya ga sama  dengan orang tua. Nilai bagus, tapi ga bisa enjoy ketika jalan sama teman. Merasa bersalah ketika diam-diam aku melakukan hal yang tidak cocok bagi seorang anak baik-baik. Akhirnya, aku susah percaya sama orang. Menganggap diri ini cukup kuat buat menghadapi semuanya sendirian.

Pada akhirnya aku menemukan orang-orang yang membuat diri ini merasa nyaman ketika akhirnya sudah menunaikan tanggung jawab dari orang tua, sembari menikmati keindahan hidup di masa muda. Berfoya-foya dengan kesenangan dunia dengan berbagai cara. Tapi ada kehampaan di hati. Perasaan bersalah pada orang tua, dan juga hilangnya jati diri tak bisa dibohongi. Terbiasa hidup di jalan lurus membuatku sedikit limbung ketika harus berbelok. Merasa tidak siap dalam mengatakan tidak pada orang lain.

Puncaknya adalah ketika aku lelah dengan semua itu dan kemudian meledak. Kelelahan emosi yang teramat sangat membuatku menganggap orang hanyalah alat. Untuk mendapatkan hal yang menyenangkan dari mereka sembari menjadi diri sendiri meskipun menyebalkan bisa diatasi selama tanggung jawab dipenuhi.

Awalnya ga masalah. Tapi akhirnya ada orang-orang yang bisa melihat kalau ada yang salah. Kami bersinggungan, bertengkar, dan kemudian saling bertukar pikiran. Dari sini aku mulai belajar menghargai. Tak mudah memang. Di satu sisi diri ini belajar untuk memahami. Di sisi lain terkadang aku tak bisa menerima jika mereka tak selalu terlihat sama. Namanya juga manusia. Mereka berubah dan berkembang, dan aku juga.

Persoalan soal kebutuhan eksistensi ternyata tak cukup soal jati diri dan juga saling memahami. Aku yang selama ini fokus pada pengakuan melupakan untuk merasakan kebahagiaan terhadap perhatian khusus dari orang. Jujur, itu teramat nyaman. Ketika ada orang yang bisa demikian, ada setiap saat, dan menerima dirimu apa adanya, seolah masalah-masalah sebelumnya bukan apa-apa.

Dan disitulah kesalahan terbesar. Ketika masalah-masalah sebelumnya tak terselesaikan, dipendam dan kemudian tidak dikomunikasikan, pikiran-pikiran penuh ketakutan di masa depan keluar. Dan untuk keluar darinya bukan hal yang gampang. Kita takut melakukan. Dan disaat orang itu menjadi salah satu bagian dari permasalahan yang dipendam tanpa dikomunikasikan, ketakutan itu tumpah semuanya. KIta tidak merasa menjadi siapa-siapa. Takut untuk berbicara, dan takut melakukan apa-apa. Tak merasa punya kuasa dan berharga.

Dan mungkin, kita sebenarnya tahu jalan keluar. Hanya perlu sebuah keyakinan bahwa tak semua sama dengan apa yang kita takutkan. Titik-titik kosong ini jika ia terus dibiarkan, pada akhirnya membuat kita kehilangan perasaan. Perlu momentum dan waktu memang. Tapi kalau tidak dilakukan, kita tak akan tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak dilakukan.

Kontemplasi panjang dari obrolan di sebuah rumah menjelang pemakaman

Advertisements

One thought on “Titik kosong

  1. gw kadang iri sama orang ‘easy going’,,, orang yang tidak terlalu memikirkan langkah yang dia ambil,,, i thought that we’re just thinking too much sometimes,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s