3 tahun tuk selamanya

Sekali waktu, gw ngerasain sakit kepala yang teramat sangat. Begitu gw cek ke dokter langganan, nggak ada indikasi apa-apa. Jujur, gw dan dokter  sama-sama heran. Gw bakal lebih lega dan siap kalo emang ada sesuatu di kepala gw. Lagian ga ada banyak hal yang berubah. Vonis mati adalah lagu lama. Sesekali ia akan terdengar sayup-sayup, lirih, dan pedih seperti keroncong. Membuat penasaran, apa yang sebenarnya disimpan dalam hati sang biduan. Di lain hari, ia akan seperti musik rock, tergesa, kencang, dan meminta ruh memberontak lepas dari wadahnya.

Dan kali ini ia terdengar datar. Seperti pop. Atau malah nge funk? mengangguk-anggukkan kepala sembari meneliti petikan ringan bass. Yang jelas, dokter ini tak seperti biasanya. Hanya diam menerawang sembari sesekali berbicara dengan orang di seberang melalui ponselnya.

“Sebenarnya saya senang kali ini tidak perlu ada resep yang saya berikan. Juga tidak perlu ada terapi tambahan yang panjang,” ujarnya tiba-tiba setelah ia menutup pembicaraan dengan entah siapa. Suara cymbal pecah di panggung musik visual gw. Membuka pertunjukan mungil di ruang putih 2×3.  Gw imbangin suara cymbal tadi dengan rentetan pelan dentum bass drum.

“Dumm…dumm…dum…”

“Hahaha…dokter ini kenapa sih. Semacam baru kenal saya saja. Apapun dok! Katakan. Kalau memang usia saya tidak lama lagi, saya siap untuk kembali mematahkan perkiraan anda” Kaki gw masih bergerak pelan menunggu si dokter menggerakkan nuansa cymball kembali. Masih belum.

“Justru karena itu Joe. Kali ini saya tidak memiliki perkiraan apa-apa, dan itu tidak biasa. Mungkin memang selama ini karena kamu sudah biasa melakukan terapi pribadi untuk menyingkirkan ketakutan; dan saya senang itu berhasil pada fisikmu; sistem pertahanan tubuhmu justru memindahkan rasa sakit itu ke dalam bentuk lain”

“crashh…” Cymball terdengar.

“Kamu menikmati rasa sakit itu dalam bentuk lain. Bukan dalam bentuk fisik. Karena pada dasarnya, manusia tak ingin dianggap lemah, sekaligus menikmati penderitaan”

Pertunjukan musik visualku usai. Ia sudah tahu. Curtains up…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s