Jembatan ke lembah bawah tanah

Yah, mungkin sedikit ada bayangan ketika sebuah gua memiliki pintu masuk yang tidak berada pada dinding tebing. Atau kaki bukit. Sulit memang membayangkan gua yang memiliki pintu masuk tepat di atas permukaan tanah. Bersanding dengan patung Buddha, dari emas, di bawah pohon beringin. Sembari bersila dan tangannya berpose layaknya orang yang bersemedi. Tipikal.

Image

 

Gua ini adalah legenda. Terbagi atas beberapa rongga, dengan sedikit cahaya yang bisa membawa manusia ke sana. Jembatan melingkar, atau mungkin lebih dikenal dengan tangga berulir. Diam-diam menelusupkan banyak orang. Hanya satu pintu masuk. Cukup melelahkan, dengan banyaknya udara yang terbakar di dalam, sementara semakin dalam, ia semakin dermawan pada penghirup nafas panjang. Kelelahan.

Image

Tak mudah memang menembusnya. Hanya satu jalan setapak. Putus setelah jalanan berbatu selebar badan kereta kuda, dan menyempit setapak kaki manusia. Semacam keindahan yang diberikan pada orang-orang yang memang berniat mencari kesunyian. Menapaki hutan cemara, tergores rumput ilalang sedepa, dan menyelam dalam lembah bawah tanah. Semakin ke dalam, semakin terasa bahwa kesunyian dan kegelapan adalah ruang sempurna bagi manusia melupakan segala hal yang mereka ciptakan. Dan selesai berjumpa dengan aroma kedamaian pertapaan panjang sang budha dengan balutan kuning emas, semua pantas melihat lembah di atasnya. Terang layaknya rembulan di atas kuburan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s