Tarik ulur naiknya BBM.

Sore ini saya berulangkali terjebak kemacetan. Jalanan Jogja yang biasanya hanya padat di beberapa titik pariwisata, terasa di hampir semua bagian kota. Dua alasan mengapa kemacetan terjadi. Pertama, keesokan hari, 18 Juni adalah pelaksanaan SBMPTN (SPMB jaman saya). Kedua, demo kenaikan BBM di pertigaan UIN Sunan Kalijaga. Akibat demo di jalan utama Jogja, lalu lintas dialihkan. Dan karena kebetulan jalanan Jogja kecil-kecil, ditambah dengan siswa SMA yang hendak ujian, kepadatan pun tak terhindarkan.

Saya tidak tertarik untuk membahas lebih lanjut apa yang terjadi. Semua orang sudah berbicara, baik yang pro maupun kontra. Baik yang menunggangi atau memang hanya sok aksi. Di mata saya, semua sama saja. Perjalanan setelah era Soeharto, memang membuat banyak perubahan. Akses terhadap informasi, kebebasan berekspresi, juga pengumpulan massa dengan berbagai argumentasi mudah terjadi. Masing-masing membela keyakinannya sendiri, itupun kalau masih punya keyakinan yang dipahami sebagai alasan dalam mengambil aksi.

Yang jelas, sebagai bagian dari masyarakat negara ini, secara langsung maupun tidak langsung efek kenaikan BBM sampai ke saya juga.

Hari ini, ketika menghindari titik kemacetan karena demo itu, saya menyusuri jalan tikus yang tidak pernah saya lewati sebelumnya. Merasakan bagaimana identitas penghuni warganya, kemudian membentuk kondisi fisik lingkungan. Atau sebaliknya. Entahlah. Ketika menyusuri jalanan tikus ini, saya melihat banyak bangunan yang berbatasan dengan perkampungan penduduk, masih menyisakan akses keluar masuk. Misalnya UIN. Berbatasan langsung dengan kampung-kampung yang mepet pagar tembok besarnya, kita bisa menemukan sebuah lobang dipagar. Tidak terlalu lebar memang, tapi lubang ini mempermudah masyarakat untuk keluar kampung yang kebetulan berbatasan dengan kali besar.

Di sisi lain, berulang kali saya masuk ke daerah perumahan elit di sekitar timoho dan terperangkap oleh tembok pagar permahan. Seolah ia memang diciptakan dengan satu pintu keluar masuk. Tapi di balik tembok besar ini juga, muncul perumahan-perumahan pinggiran masyarakat pinggiran yang justru menciptakan jalanan setapak untuk dilewati kendaraan yang terperangkap kemacetan. Mereka mengarahkan dan menunjukkan jalan tembus lain ke arah jalan besar. Tidak ada pandangan curiga di sana.

Di sini saya kemudian melihat hal yang benar-benar berbeda. Mereka bukan tak peduli pada kenaikan BBM. Tapi mereka sadar, mereka tak memiliki kekuatan atau kemampuan apapun untuk merubah itu semua. Obrolan panjang ini justru mereka jadikan tontonan, dan kemudian mengalihkan perhatian sebentar dari kelelahan menjalani hari-hari. Dua sisi kehidupan yang seolah berbeda jauh ini, saling bekerja sama dengan caranya sendiri.

Sementara itu, kenaikan BBM, memang sebenarnya jika hanya dilihat secara satu aspek saja, memberikan dampak yang tidak baik. Menghancurkan. Maksud saya, bukan hanya secara ekonomi saja, tapi juga di kalangan masyarakat. Banyak hal-hal penting yang sudah lama teralihkan oleh hal-hal lain yang diangkat sebagai pengalih perhatian.

Ada masyarakat yang hidup di Kalimantan sana, biasa dengan BBM yang langka, padahal daerahnya penghasil minyak. Ada juga masyarakat yang kehilangan hutannya, rusak kesehatannya, juga masa depan anak cucunya karena tambang minyak di sana sini. Ada masyarakat yang kesulitan dalam mencari uang untuk makan, kemudian bingung karena tiba-tiba saja, gajinya sebulan habis sehari untuk bayar semua kebutuhan makanan.

Masalah yang ada sudah terlalu mengakar. Kebijakan yang diambil separuh-separuh, tanpa kejelasan, apapun, akibatnya akan melukai banyak orang. Contohnya bisa dilihat di atas. Aktivis lingkungan, ekonomi, buruh, migrant, tak akan menemukan jalan temu. Kacamatanya sudah berbeda. Apalagi bahasannya soal Indonesia. Kacamata yang dipakai tidak bisa hanya Jakarta.

Kalau kacamata itu yang dipakai, maka orang-orang akan tetap bertanya, mengapa banyak mahasiswa yang turun ke jalan memprotes kenaikan BBM? Masing-masing akan saling berdebat karena memang yang dicari adalah kebenaran yang sesuai dengan keyakinan. Semua akan menjadi serba salah. Tak aka nada yang dibenarkan.

Untuk solusi sendiri, tidak usah pintar-pintar memahami menyelesaikan permasalahan ini. Fokus ke satu persoalan inti, menyejahterakan masyarakat. Satu kata ini sudah cukup untuk menyederhanakan permasalahan dan pemikiran. Ketika ini sudah terjadi, maka pemerintah tinggal mengawasi di kemudian hari. Tak perlu banyak menggurui. Masyarakat kelak bisa bergerak sendiri untuk melanjutkan pondasi yang sudah ada tadi. Tidak seperti sekarang. Penuh kegalauan, dan yang mengikuti akhirnya saling bertabrakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s