Sungkan

Menjadi bagian dari kampung memang bukan hal yang mudah. Antara menjadi masyarakat kota yang cuek dan menyisakan orang-orang tua dengan norma-norma lama. Keduanya seolah menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, kecenderungan menyeragamkan semua orang yang datang terkadang menyisipkan kecurigaan, bukan ucapan selamat datang. Di sisi lain, rasa hati-hati karena bukan penduduk asli, lama kelamaan tumbuh menjadi rasa tidak perduli. Lelah dengan keterbatasan yang tak kelihatan. Terlebih hubungan yang ada bukan dibangun karena toleransi, tapi lebih untuk saling tidak bersisian. Menciptakan garis tak tampak untuk tetap menyajikan senyuman antara yang asli dan pendatang.

Sementara itu, di balik keseragaman yang ada itu, lingkaran diam yang tersaji di muka, menyisakan omong-omong di belakang. Hanya bisa mendengarkan, menyeleksi, lalu berdiri pada satu sisi. Memberikan pendapat bisa dianggap lancang. Diam pun hanya akan membuat diri jauh sembunyi. Tak kelihatan, dan tenggelam pada kesibukan. Dan akhirnya menjadi korban omongan.

Kampung saya kebetulan banyak dihuni oleh pendatang. Baik mahasiswa, maupun yang menetap. Tak heran kemudian, dinamika yang ada, bagi saya sendiri cukup nyaman. Pertama, sebagai sesame pendatang, perasaan asing kepada lingkungan adalah hal pertama yang dihadapi. Mau tak mau tetap peduli. Maklum, standar ganda bagi orang yang bukan penduduk asli seolah menjadi hal yang biasa. Kedua, sebagai pendatang, tantangan yang dihadapi dalam bertahan hidup menjadi tak sama dengan penduduk asli. Ketika hak untuk menghuni sudah tak ada lagi, maka tak ada tempat terdekat yang bisa menjadi tempat berlari.

Dinamika ini terkadang dipaksa untuk bertubrukan dengan dinamika lain yang lebih besar. Kebiasaan, identitas, dan juga berbagi kepentingan. Kampung pendatang ini hanya setitik kecil dibandingkan dengan kampung asli. Maka menjadi hal yang wajar ketika ego pribadi terkadang harus mengalah demi eksistensi diri. Ketimbang dipaksa pergi dan tak ada tempat kembali.

Hal-hal seperti ini lebih mudah untuk dibaca ketimbang kembali menelusuri mereka yang sudah dahulu di sana. Pada kenyataannya, hubungan baik antara minoritas pendatang dengan mayoritas penduduk asli tak akan tercipta jika keduanya tak saling mengalah. Salah satu sisi positif warga kampung asli yang dihuni oleh pendatang adalah, mereka bisa memilih. Pada siapa tanah mereka kemudian akan dihuni. Namun, sekarang ini, keturunan-keturunan mereka terkadang tak bisa melihat diri. Tak mampu menahan iri. Hal-hal seperti inilah yang lantas membuat banyak orang berfikir sempit. Memposisikan diri dalam ruang aman. Mencari keuntungan di balik keserakahan, tanpa harus mengotori tangan. Kabar anging dihembuskan, sementara tak tahu kemana harus ditelusuri. Yang bisa dilakukan kemudian hanyalah diam. Sambil pelan-pelan mengatur kembali posisi. Karena kedua sisi adalah sama. Karena selalu ada yang berbagi keuntungan dan kerugian. Jika semuanya dikembalikan kepada keyakinan akan kebenaran.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s